1.Toga Sihombing

Siraja Batak - Copy

TOGA SUMBA

Oleh : Putri Sintiya Ronovnatio Nababan no 20 Sandarnagodang

Menurut cerita dulunya Toga Sumba bertempat tinggal di Meat sebuah desa kecil ditepian danau Toba, kec. Balige Kab. Toba Samosir – Sumatera Utara, karena sesuatu hal Toga Sumba pergi ke daerah Tipang di daerah Kab Somosir, didaerah ini lah Toga Sumba bertempat tinggal dan memiliki 2 (dua) anak yaitu 1.Toga Simamora 2. Toga Sihombing.

Setelah Toga Sumba meninggal Toga Simamora dan Toga Sihombing tinggal di Tipang,

TOGA SIHOMBING

Toga Sihombing disebut juga Sihombing Si Opat Ama, yaitu 1. Silaban (Borsak Junjungan) 2. Lumbantoruan (Borsak Sirumonggur) 3. Nababan (Borsak Mangatasi) 4. Hutasoit (Borsak Bimbingan). Seharusnya keempat bersaudara ini adalah mardongantubu akan tetapi pada masa belakangan ini bagi mereka yang masih tinggal di bona pasogit, Sihombing Si opat ama sudah kawin dengan istilah rundut ni eme dogabena,  tetapi sepertinya bagi mereka yang tinggal ditano parserahan (perantauan) agak segan dan tetap menggap Sihombing adalah sama dan satu keluarga besar.

NABABAN (BORSAK MANGATASI)

Pomparan Borsak Mangatasi membuka perkampungan Lumban Hoda, Siapariama, Lobu Butar, yang tinggal di Lumban Hoda adalah Oppu Rajanauli Nababan/br Rajagukguk sundut ke 8   dan setelah merdeka menjadi Desa  Lumban Tonga-tonga sekarang.

Dalam silsilah marga Nababan sampai empat keturunan hanya memiliki satu anak saja yaitu, Sisogo-sogo, Siantar Jae, Siantar Julu, Ompu Domi dan ompu domi inilah yang memiliki dua anak yaitu 1. Tuan Sandar Nagodang 2. Tuan Sirumonggur. Kemungkinan karena Nababan anaknya hanya selalu satu sampai empat generasi membuat marga Nababan tidak sebanyak marga-marga lainnya.

Tetapi pada masa belakangan ini marga Nababan sudah mulai dapat bersaing dengan marga yang lain baik dalam jumlah maupun kualitasnya terbukti marga Nababan sudah mulai banyak bermunculan menjadi orang-orang berhasil. Setelah marga Nababan membuat Partangiangan pada 13 Oktober 1955

LEGENDA (cerita) atau TURI-TURIAN MARGA NABABAN

Asal nama marga Nababan diyakini berasal dari kata BABA=Mulut, “BABA,  Na-Baba-An = si baba on” sibabaon artinya adalah harus di tuntun berbicara, harus di ajari berbicara. Kemungkinan Nababan sulit mengutarakan sesuatu dengan lugas/lancar atau selalu harus di diperintah untuk berbicara.

Menurut cerita setelah Nababan tumbuh dewasa, ia disuruh oleh orang tuanya untuk mencari teman hidupnya, namun ia tidak tahu harus mengatakan apa pada perempuan yang akan ditemuinya, kemudian dia meminta pada ibunya untuk mengajarkannya.

“Ale boru ni rajanami lomo do rohamu marnida ahu, asa hu alu-aluhon tu natorashu” demikian ibunya mengajarinya. Artinya kira-kira adalah “halo adinda apakah engkau mencintai aku?, jika ya aku akan memberitahukan orang tuaku”.

Kemudian Nababan berangkat mencari wanita idamannya, namun di tengah perjalanan ia selalu lupa dan berulang-ulang kembali pada ibunya untuk meminta diajarkan kembali dan setiap ia kembali pada ibunya ia selalu di ajarkan kata yang sama tetapi ia tetap lupa, sehingga ibunya marah, tetapi ibunya juga merasa lucu dengan tingkah anaknya dan sambilnya tersenyum ibunya mengatakan “ha,ha, ha, nimmu do pe!, si baba-baba an do ho, songon tangke, asa Sibabaan nama goarmu”  kira kira artinya, “ha, ha, ha!, ngomong apa sich?, kok ngomong gitu aja gak bisa”, Note : kata na-baba-an disini tidak bisa diartikan dalam bahasa Indonesia.

Kira kira demikian borsak mangatasi memiliki nama NABABAN, unik memang tetapi ini hanya cerita turun-temurun, benar atau tidaknya tidak bisa dibuktikan. Mudah-mudahan marga Nababan tidak lupa dengan asal-usulnya apalagi malu memberi label marga/boru NABABAN

Marga Nababan adalah anak ke tiga dari Empat bersaudara dari Toga Sihombing. Yang dahulu lahir dan bertempat tinggal di Tipang kecamatan Baktiraja Humbang Hasundutan sekarang. Memang tidak bisa disalahkan apabila ada marga Nababan yang menyebut dia Marga Sihombing, tetapi seiring dengan perkembangan dan semakin banyaknya keturunan Marga Sihombing maka ada baiknya disebut Marga Nababan, apalagi saat ini yang kita tahu keturunan Toga Sihombing Si opat ama ini, Sihombing sudah ada saling menikah (Bukan se-borsak). Keturunan (Anak) Toga Sihombing ada 4 (empat), yaitu:

  1. Silaban (Borsak Junjungan) sebagai Anak Pertama
  2. Lumbantoruan (Borsak Sirumonggur) sebagai Anak kedua
  3. Nababan (Borsak Mangatasi) sebagai Anak Ketiga
  4. Hutasoit (Borsak Bimbingan)sebagai Anak Keempat/Siampudan

Keempatnya sudah benyak saling menikah, contohnya antara silaban dengan lumbantoruan, Lumbantoruan dengan Nababan, Nababan dengan Hutasoit, Hutasoit dengan Silaban dan sebaliknya tetapi menikah dengan satu marga (borsak) sangat dilarang dan tidak boleh pada dasarnya.

Toga Sihombing mempunyai  saudara yaitu Toga Simamora yang merupakan anak dari Toga Sumba. Jadi Anak Toga Sumba Ada 2 (dua) yaitu:

  1. Toga Simamora
  2. Toga Sihombing

Dan menurut cerita, Toga Sumba dulu tinggal di daerah Balige, tetapi suatu ketika timbul perselisihan di antara mereka karena ketidaksengajaan dari keturunan Nai Sobuon mengakibatkan anak dari Nai Tukaon tewas. Sejak kejadian ini keturunan dari Nai Sobuon jadi was-was dan akhirnya mereka keluar dari Balige dan menetap dipinggiran Danau Toba yakni Huta Meat, Balige. Tetapi rasa was-was selalu menghantui, akhirnya Toga Sumba pun harus merantau dan membuka perkampungan di  “Tipang”. Disana Toga Sumba  menikah dengan boru Lontung  dan memiliki 2 (dua) turunan diatas.

 

 Setelah Toga Simamora dan Toga Sihombing mempunyai keturunan, anak, cucu dan cicit, keturunan mereka semakin gabe keturunan mereka sebagian meninggalkan Tipang.

Keturunan Toga Simamora pun pergi dari kampung itu dan membuka perkampungan dan menetap di Lobusipagabu diatasnya Bakara. Sedangkan Toga Sihombing sebagian juga pindah dari Tipang karena tanahnya kurang subur ke arah Sipultak dan membuka kampung yang dulu diberi nama Lobuonanria. 

(Ada cerita Toga Simamora dan Toga Sihombing hanya mempunyai satu istri untuk mereka berdua dan Toga Simamora mempunyai anak 3 (tiga) yakni Purba, Manalu dan Debataraja tetapi ini kita tinggalkan dulu) dan Toga Sihmbing mempunyai 4 anak.

Menurut cerita, Marga Nababan diyakini berasal dari kata “BABA”=Mulut. Konon katanya Borsak Mangatasi ini kurang lancar berbicara dan sulit mengutarakan/mengatakan sesuatu dengan lugas dan agak pelupa sehingga kalau seseorang menyuruhnya maka ia akan mudah lupa akan apa yang telah diperintahkan kepadanya. Kadang dia akan kembali lagi untuk menanyakan tadi saya disuruh ngapain? Sehingga dia pun harus berulang-ulang untuk mengucapkan sesuatu biar tidak lupa.

Ceritanya kira-kira seperti ini, Sewaktu Borsak Mangatasi tumbuh dewasa, ia disuruh oleh orang tuanya untuk mencari teman hidupnya, namun ia tidak tahu harus mengatakan apa pada perempuan yang akan ditemuinya, kemudian dia meminta pada ibunya untuk mengajarkannya bagaimana cara mengungkapkan isi hatinya terhadap calon pasangannya. Lalu ibunya mengajarkan: “Dokma songonon, Ale boru ni rajanami lomo do rohamu marnida ahu, asa hu alu-aluhon tu natorashu.”  (Hai gadis.. apakah kamu ada perasaan suka sama saya agar saya sampaikan kepada Orang tua saya)

Kemudian Borsak Mangatasi berangkat mencari wanita idamannya, namun di tengah perjalanan ia pun lupa dan kembali pulang pada ibunya untuk meminta diajarkan kembali. Dan ternyata itu terjadi berulang-ulang. Dan setiap ia kembali pada ibunya ia selalu di ajarkan kata yang sama tetapi ia tetap lupa, hal ini selalu membuat ibunya marah dan jengkel, tetapi ibunya juga merasa lucu dengan tingkah anaknya dan sambilnya tersenyum ibunya mengatakan, “ha,ha, ha, nimmu do pe!, si baba-baba an do ho, songon tangke, asa Sibabaan nama goarmu”  Mulai saat itu Borsak Mangatasi mendapat nama baru Nababan (berasal dari kata si”baba”an)

(Ini adalah cerita, belum bisa dijamin kebenarannya ya..)

Tipang adalah tempat kelahiran Marga Nababan. Dan disana pula berkembang. Tetapi lama kelamaan, Keturunannya mulai merantau ke beberapa daerah seperti ; Nagasaribu, Lumban tonga-tonga, Sipultak, Siborong-borong, Sitabo-tabo, Paniaran dan daerah lain

Marga Nababan harusnya lebih rendah hati lagi karena sampai empat generasi Ompung kita hanya mempunyai satu anak yakni :

  1.      Siantar Julu
  2.      Siantar Jae
  3.      Sisogosogo
  4.      Oppu Domiraja

Tetapi seiring dengan kemajuan zaman, terlihat bahwa kasih diantara keluarga itu sudah mulai redup dimana sudah terlihat jelas perbedaan-perbedaan sesama Marga Nababan. Sudah timbul kata “Siapa lo, siapa gue“. Harusnya kita seperti kata pepatah orang tua kita dulu, “Marsitungkol-tungkolan songon suhat di robean, Marsiamin-aminan songon lampak ni gaol” yang artinya marilah kita bersatu dan memelihara tali persaudaraan dimana kita saling menopang, saling mambantu dan saling mengasihi satu antara lain. Bukan karena kekayaan dan kejayaan serta keberhasilan kita bersaudara tetapi karena KASIH. Mari kita melihat kebelakang dan tetap berjalan maju kedepan, apa yang tidak baik diwaktu lalu kita tinggalkan dan berbenah untuk selalu melakukan kebaikan untuk kedepannya.

Pada dasarnya dalam komunitas Orang Batak di Bona Pasogit dahulukala marga itu adalah nama atau gelar yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya (dapat dilihat pada silsilah/tarombo SIRAJA BATAK), yang kemudian pada generasi berikutnya dipakai oleh keturunannya sebagai marga di belakang namanya. Sehingga kita dapat mengetahui siapa nenek moyang kita sampai sekarang dan untuk masa yang akan datang tentunya, bila kita generasi muda tetap mengajarkan silsilah/tarombo marga kita kepada anak kita turun temurun.

Mengapa Marga itu perlu?

Dalam komunitas Orang Batak Marga sangatlah penting dalam tatanan budaya, adat istiadat dan kehidupan sosial, terutama dalam pelaksanaan DALIHAN NATOLU yaitu : manat mardongan tubu, somba marhula-hula, elek marboru.
Setiap Orang Batak akan tetap memerlukan marganya terutama dalam penyelenggaraan adat istiadat, budaya dan kehidupan sosial khusunya dalam komunitas Masyarakat Batak baik di bona pasogit maupun di perantauan.
Selain itu Marga yang kita warisi secara turun temurun dapat berfungsi sebagai Nama Keluarga sehingga kita dapat mengetahui dongan tubu, boru, bere dan hula-hula, sehingga perkawinan sedarah/terlarang dapat dihindari. Dan yang terpenting menjadi sbuah identitas diri, seperti kita Marga NABABAN. Seperti Kutipan Pdt. DR TM. Sihombing dalam Buku Jambar Hata : diantara banyak suku bangsa di dunia ini Suku Batak adalah suku yang paling unik dan harmonis diantara sukubangsa-sukubangsa yang ada di dunia ini. Jadi kita tidak harus malu untuk mencantumkan/menggunakan marga kita.

Perlukah, Silsisah/Tarombo untuk diketahui?

Kalau kita masih mengaku sebagai Orang Batak, silsilah/tarombo sangatlah perlu untuk diketahui! Kenapa? Karena dengan mengetahui silsilah/tarombo, kita dapat mengetahui siapa nenek moyang kita, kita dapat mengetahui hahadoli (abang), anggidoli (adik). Apabila kita sdh paham dengan silsilah/tarombo dengan sendirinya kita dapat mengetahui nomor/generasi ke berapakah kita, sehingga kita dapat mengerti posisi kita dalam Golongan : Oppung (kakek), bapak, anak dan cucu.

Contohnya :
1.Generasi pertama (1) Bapak adalah Borsak Mangatasi, Generasi kedua (2) anak adalah Siantar Julu, Generasi ketiga (3) cucu adalah Siantar Jae, Generasi keempat (4) cicit adalah Sisogosogo, Generasi kelima (5) buyut adalah Oppu Domi Raja, kemudian Oppu Domi Raja mempunyai 2 orang anak yang pertama SANDAR NAGODANG dan yang kedua TUAN SIRUMONGGUR mereka adalah generasi yang keenam (dalam silisilah/tarombo nomor 6), dst dan hingga saat ini Marga Nababan sdh ada sampai dengan nomor 22.
Ket: Generasi dalam bahasa Batak adalah Sundut.

  1. Bila nomor sama umpama sama-sama nomor 18, misalnya si A dari generasi Sandar Nagodang, B generasi dari Tuan Sirumonggur, maka si B memanggil abang kepada si A, selanjutnya anak si B memanggil bapatua kepada si A, dan anak si A memanggil bapauda kepada si B, dan seterusnya.

Perlu diingatkan banyak orang salah pengertian tentang silsilah/tarombo, silsilah/tarombo bukanlah untuk memilah-milah atapun memisah-misahkan, tetapi dengan mengetahui silsilah/tarombo dengan baik dan benar maka akan mudah untuk mengimplementasikan DALIHAN NATOLU pada setiap penyelenggaraan adat istiadat, budaya dan kehidupan sosial dalam komunitas masyarakat Batak. Maka bila masih ada diantara kita Pomparan Borsak Mangatasi Nababan Boru Bere (PBMNBB) Indonesia yang dibentuk sejak tanggal 13 Oktober 1955,  yang belum mengetahui silsilah/tarombo segeralah cari tau kepada orang tua, oppung, bapatua, bapauda, abang atau adik.

Dimanakah Marga Nababan lahir?

Marga Nababan dilahirkan di Tipang dan setelah keturunannya mulai banyak, kemudian merantau/beremigrasi ke daerah Humbang-Siborongborong. Dapat kita simak dalam Lagu Mars Nababan yang dinyanyikan setiap Partangiangan 13 Oktober : Tubu di tano Tipang do marga Nababan, gabe ditumpak Tuhan raratma tu Humbang, dst…

Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).

Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:

“Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”

artinya:

“Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);
Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji”

 PENDAHULUAN

Marpadan lapatanna hera songon on doi ra, Padan = sama = tara <sepadan=seimbang=setara atau sama dengan) dalam bahasa batak marpadan sama dengan  bersepakat mengikat janji untuk sama dalam kedudukan hak dan kewajibannya akan tetapi maknanya pada jaman dulu pada kehidupan nenek moyang orang batak mungkin lebih ke arah sumpah untuk hidup setara berdampingan dalam hak dan kewajiban bukan hanya sekedar janji pada masa sekarang ini.

  1. LATAR BELAKANG

Di pusuk buhit di percaya orang batak sebagai tempat turunya dewa atau dalam bahasa batak dikatakan ompung mulajadi nabolon, orang batak katanya adalah keturunan dari Putri TAPIDONDA yang turun dari kahyangan, dan putri tapidonda mewariskan cikal bakal orang batak yaitu guru tatea bulan dan guru isumbaon

Dan ada yang berpendapat bahwa ada saudara orang batak 1 lagi tetapi ia pergi kedaerah aceh dan kemudian tidak pernah kembali ke toba dan banyak yang mengatakan keturunannya adalah batak gayo dan alas yang dalam adat istiadat dan tulisan masih sama dengan batak, pada sistim kemasyarakatan orang batak peminpin tertinggi adalah pimpinan tertinggi kepercayaan mereka, yaitu datu tertinggi

Pada jaman sipelebegu (jaman kegelapan) orang batak adalah penganut sinkritisme, mereka pada masa itu adalah penganut yang sangat setia, mereka dekat dengan alam tidak jauh dari ciri-ciri penganut aliran kepercayaan yang bersifat sinkritis lainnya kepercayaan orang batak juga mengenal sacrifice manusia hidup-hidup

Mereka percaya kejadian bahwa kejadian-kejadian alam adalah akibat dari perbuatan mereka yang baik atau tidak baik seperti misalnya, orang batak pada jaman itu mengenal gempa bumi sebagai akibat dari ulah seekor naga yang sedang mengamuk mengguncang bumi

Meraka akan berbuat apa saja untuk semua yang di percaya mereka dan bukan tidak mungkin dengan gampang sekali sebuah kesalahan kecil akan dibayar dengan pengorbanan nyawa

Pada saat itu adalah hal yang lumrah jika tidak bisa membayar utang maka siorang ini harus membayarnya menjadi budak (partangga gogop=tangga genap)

Budak atau tawanan (naipasung) tidak menjadi masalah dikorbankan menjadi persembahan tergantung kepentingannya tujuan mengorbankannya (darahnya tidak keluar ditumpa dohot simbora atau darahnya harus ditumpahkan, banyak rumah gorga batak pada ornamen warna merah adalah berbahan dasar darah manusia)

Demikian mereka sangat takut dengan segala akibat dari perbuatan mereka termasuk jika mereka bersumpah, berjanji atau marpadan selalu berusaha di tepati dan jika tidak sanksinya adalah sesuatu yang tidak bisa diduga dengan akal sehat pada situasi masyarakat yang hak-hak dasarnya sudah dijamin oleh hukum seperti masa sekarang ini.

III. PADAN

Setiap marga-marga dalam tatanan kekerabatan kehidupan masyarakat batak pada umumnya memiliki kerabat sepadan, mereka hidup berdampingan dengan teguh memegang janji pendahulu mereka dan mereka setia mengajarkannya atau memandatkannya pada keturunan mereka

Isi dari padan mereka rata-rata sama dalam pengertian sepadan biasanya mereka mengangkat saudara satu sama lain, misalnya siregar – nainggolan, nababan – sitorus, manurung – hutajulu, sibuea – panjaitan, silalahi – tampubolon, sitompul – tampubolon, sihombing lumban toruan – naibaho dan masih banyak yang lain, biasanya terjadinya perikatan ini  memimiliki latar belakang cerita dan akan melahirkan isi perikatan (padan) yang sesuai dengan latar belakang perikatannya.

  1. PADAN NABABAN DENGAN SITORUS PANE

Nababan dengan Sitorus Pane adalah dongan sapadan, sampai pada hari ini belum ada yang saya ketahui nababan dengan sitorus yang marsibuatan (kawin-mengawini) sebabnya isi padan (perjanjian) mereka adalah masih lebih baik marga nababan kawin dengan boru nababan dari pada Nababan dengan marga Sitorus/boru sitorus atau sebaliknya

Dan jika ada yang melanggarnya maka sangsinya adalah dikucilkan dari paradaton (kegiatan/acara adat) dan termakan sumpah/janji yang dibuat marga nababan dan sitorus pane.

Adapun cerita dibalik padan ini adalah, pada awalnya yang melakukan perikatan adalah Raja Mangambit Nababan turunan marga nababan (yang datang dari humbang) dengan Matasopiak Sitorus yang tinggal di Talak Batu Parsambilan, Tobasa

catatan :

  1. Keluarga Marga Sitorus adalah Sitorus Pane, Sitorus Boltok dan Sitorus Dori, Ompu Matasopiak adalah Keturunan dari Marga Sitorus Pane dari Parsambilan
  2. Raja Mangambit adalah Turun dari, Nababan (Borsak Mangatasi) dengan turuna sbb > Siantar julu > Siantar Jae > Raja. Sisogo-sogo > Op. Domi Raja > Tuan Sirumonggur > Siurat urat > Marbona > Ompu. Lobi > Raja Mangambit manang Pamona

Setelah meninggalkan Siborongborong Raja Mangambit bertempat tinggal di Lumban Gala-gala Balige didekat mual baho, desa lumban-gala lebih dekat jika melalui Laguboti saat ini

Akan tetapi posisi tinggal raja Mangambit disana adalah sonduk hela (tinggal dikampung mertua) sehingga ia merasa kurang nyaman dan dan kurang enak hati segan jika dekat-dekat dengan mertuanya dan hula-hulanya (keluarga dari istrinya)

Maka dia memutuskan untuk pindah dari mual baho pergi mencari lahan yang baru dan tujuannya adalah arah Habinsaran dan sampailah dia ke desa Hitetano, Kecamatan Parsoburan, Tobasa sekarang

Sepertinya sekitar daerah tersebut marga Sitorus sudah lebih dulu tinggal dan kira-kira memang asal marga Sitorus adalah Sibisa atau daerah Porsea sekitarnya

Menurut orang tua saya yang menceritakan hal tentang padan dengan marga sitorus ini, awalnya adalah timbul perselisihan antara raja Mangambit nenek moyang marga nababan dihitetano dengan matasopiak nenek moyang marga Sitorus Pane

Cerita yang saya dapatkan adalah mereka perang tanding ilmu hadatuon, mereka berbalas-balasan saling menjatuhkan

Entah siapa yang memulai perselisihan ini serta siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam perang tanding ilmu hadatuon pada waktu itu tidak diketahui

Dan pada akhirnya mereka sadar perselisihan mereka sudah membawa kerugian besar dan tidak ada hasilnya sama sekali sehingga mereka bersepakat untuk berdamai dan hidup rukun berdampingan, dengan membuat perjanjian perikatan (padan)

Dan belakangan saya ketahui pula ada cerita lain bahwa awal padan itu adalah akibat dari perang antar kampung dimana keluarga marga Sitorus ditawan oleh kelompok lain dari daerah Kecamatan Silaen, diceritakan kelompok ini sangat banyak/kuat sehingga tidak mungkin dikalahkan

Tetapi karena Ompu Raja Matasopiak di ceritakan adalah marale-ale dengan Raja Mangambit, mereka berunding mencari cara membebaskan keluarga Sitorus dari pihak silaen, sehingga muncul ide Raja Mangambit menciptakan kepanikan di pihak silaen

Adapun idenya adalah keluarga Sitorus parsambilan dan Keluarga mangambit mendatangi pihak silaen pada malam hari dengan teriakan-teriakan perang untuk menciptakan keributan, seolah akan menyerbu pihak silaen dengan masing-masing membawa 2 obor ditangan

Dengan demikian terlihat betapa banyak pihak sitorus dan sekutunya telah datang menyerbu, sehingga pihak silaen pun panik

Dan kepanikan ini pun dimanfaatkan membebaskan keluarga sitorus dari tawanan pihak silaen dimana sebelumnya pada sore hari raja Mangambit telah mengendap-endap dan bersembunyi di lumbung padi milik pihak silaen sebagai penyusup

Dan pada saat itu perangpun dapat dihindari karena pada dasarnya pihak silaen tidak mungkin di kalahkan, keluarga matasopiak dan Mangambit pulang dengan aman tanpa ada korban, sejak dari saat itu merekapun membuat parpadanan

Adapun isi dari perikatan itu adalah :

  • nababan dan sitorus adalah sisada anak dan sisada boru (anak-anak nababan juga adalah anak-anak sitorus dan sebaliknya) tidak boleh margaboru nababan kawin-mengawini dengan marga/boru nababan
  • nababan dan sitorus adalah sama dalam posisi kekerabatan tidak ada abang dan tidak ada adik, hanya jika nababan dirumah sitorus maka sitoruslah yang siabangan dan sebaliknya
  • nababan dan sitorus harus hidup rukun berdampingan dan saling membantu
  • tidak boleh ada perselisihan antara nababan dan sitorus (hindari permasalahan yang melibatkan sitorus dan nababan)

Dan sampai hari ini jika ada marga nababan dan marga sitorus bertemu mereka langsung bersaudara dan menggunakan sebutan ampara (appara) dan kemudian melihat tempat untuk memanggil abang atau adik,

Tetapi pada masa sekarang sudah banyak yang melihat umurnya saja jika lebih tua dipanggil  bapatua atau abang dan jika lebih muda dipanggil bapa uda atau adek.

Menurut ayahku ada pula beberapa orang  keturunan marga nababan yang tading maetek (ditinggal mati orangtuanya) kemudian berubah marga menjadi sitorus karena si anak tadi lebih banyak hidup dengan marga sitorus, mudah-mudahan masing-masing kita masih perduli dengan silsilah nenek moyang kita.

  1. PENUTUP

Maka demikian marga sitorus/nababan akan menjadi saudara dalam satu padan dari dulu sampai sekarang