Stock Cartridge Habis, RSUD Tarutung Kehabisan Amunisi Perang Melawan Covid-19

dr janri nababan MM

Tarutung – Sejak pertengahan Maret 2020, RSUD Tarutung resmi dihunjuk sebagai Rumah Sakit rujukan penanggulangan penyakit Infeksi Emerging tertentu melalui surat keputusan Menkes RI No. HK 01.07/Menkes/2020, lalu diikuti dengan surat penunjukan sebagai laboratorium rujukan.

Tentunya ada rasa bangga disamping penunjukan RSUD Tarutung sebagai Rumah Sakit rujukan penanganan Covid-19 juga ada kekhawatiran. Rasa khawatir lebih dominan karena persiapan RSUD Tarutung menuju pusat rujukan belum kelihatan baik dari sarana maupun prasarana dari Kementerian Kesehatan.

Belum lagi ketersediaan alat Cartridge Sarscov2 kondisi stocknya habis pasca pengiriman dari Kemenkes 120 unit.

“Ini jadi dilema dalam menangani pasien terpapar Covid-19 di RSUD rujukan Covid-19 Tarutung, kita disuruh perang namun minim amunisi, bahkan habis,” ungkap Dirut RSUD Tarutung, dr Janri Nababan MM kepada wartawan, Rabu (30/9/2020).

Awalnya saat RSUD Tarutung direkomendasikan melakukan penanganan pasien terkonfirmasi Covid-19, pihaknya hanya dibekali ruang isolasi bekas Pandemic flu burung tahun 2007, bantuan dari Kemenkes terdiri dari 4 ruangan, dengan Natural Air Flow, tidak ada pendukung lainnya.

“Seiring berjalannya waktu, tibalah pasien yang disangkakan Covid-19, pasien ini merupakan pegawai Kemenlu yang datang bersama rombongan Kementerian Maritim dan Investasi dalam rangka kunjungan dari negara Belanda, riwayat perjalanan 2 minggu lalu dari Vietnam, yang disangkakan telah terjangkit Covid-19,” ujar Janri mengulang kisah pasien pertama terkonfirmasi.

Belum lagi, kepanikan makin menjadi jadi ketika pasien itu dirujuk dari Balige ke RSUD Tarutung.

“Dokter spesialis yang merawat juga kebingungan, dan akhirnya setelah berdiskusi panjang lebar dengan spesialis lainnya pasien ditempatkan di ruang ‘vip’ Melati, hanya dengan bermodalkan hasil Xray Paru, didapati sangkaan Pneumoni, Rapid Test Covid-19 belum ada pada saat itu,” paparnya.

Kepanikan makin menjadi jadi diantara para staf medis dan perawat, akhirnya pasien dirujuk ke RS Adam Malik, dan baru tiga minggu didapat hasil negatif, sepanjang tiga minggu pegawai RSUD Tarutung sudah harap-harap cemas, dan mengambil kesimpulan saat itu untuk mencutikan pegawai yang kontak dengan pasien.

“Dan untuk mendukung diagnosa, pada bulan Juli kita mengoperasikan alat TCM merk Gen Xpert yang sebelumnya diperlukan dalam diagnosa TB MDR, dengan mengganti Catridgenya dapat memeriksakan virus SARSCOV2, alat ini dan pendukungnya sudah kita siapkan beberapa bulan sebelumnya sehingga alat ini bisa berfungsi dengan baik dalam mendiagnosa,” kata Janri.

Lanjut Janri, RSUD Tarutung masih terkendala ketersediaan Catridge Sarscov2 yang masih bergantung dari Kemenkes, rata-rata setiap pengiriman dikirim sebanyak 120 unit Catridge.

“Untuk RSUD Tarutung jumlah ini masih jauh dari harapan, karena RSUD Tarutung juga memeriksa sample dari Kabupaten lainnya, mulai dari Padang Sidempuan, Tapanuli Tengah, Sibolga, Humbahas, Toba dan Samosir. Untuk mengantisipasi kekurangan kita membatasi pemeriksaan, dan ini sudah berulang kali disampaikan ke beberapa pihak namun belum ada tanggapan terkait ketersediaan Catridge, seolah oleh Pemerintah lepas tangan dengan persoalan ini,” sesalnya.

Janri berharap dan menyarankan ada baiknya setiap RS Rujukan dilengkapi dengan senjata untuk berperang.

“Sedangkan untuk mengurus APD saja sangat susah, mungkin itu sebabnya banyak tenaga kesehatan yang menjadi korban. Kembali ke persoalan Catridge, semua bergantung ke Kemenkes, sedangkan untuk membeli saat ini belum tersedia, kalaupun ada juga sangat minim dan dibatasi oleh distributor, dengan kelangkaan Catridge sudah otomatis penanggulangan Covid-19 di daerah Tapanuli Raya ini akan kembali sulit, seperti orang buta disuruh berjalan,” urainya.

Untuk itu, Janri memohon kepada Kemenkes agar penanggulangan Covid-19 benar-benar comprehensive dan terarah agar Cartridge segera dipasok ke RSUD Tarutung. Janri mengungkapkan sebelumnya, pada April kedatangan Gubernur Sumatera Utara Edy Ramayadi ke RSUD Tarutung diperkirakan membawa angin segar.

“Ada kelegaan, sembari berharap ada bantuan bagi RS Rujukan, namun harapan itu hanya sedikit terwujud dengan bantuan APD, dan Rapid test,” sebutnya.

Namun ternyata, masalah demi masalah muncul sebagai RS rujukan, mulai dari ruangan, ketenagaan, laboratorium, alat penunjang X Ray, dan masih banyak lagi persoalan menyita energi sebagai seorang pimpinan RS.

Untunglah pada saat rapat Forkopimda, RSUD Tarutung mengusulkan ruang isolasi dengan tekanan negatif, dan akhirnya terwujud pada Juni, dengan 32 Bed, tujuh ruangan untuk kasus berat dan 25 bed kelas bangsal dengan tekanan negatif. Lalu berlanjut pembangunan ruang operasi khusus dengan tekanan negatif.

“Kami bersyukur mempunyai sosok Bupati Drs Nikson Nababan MSi yang sangat care percepatan penanganan Covid-19. Beliau visioner dan sangat brilian dan langsung setuju dan disaat daerah lain masih berpikir, beliau sudah bertindak, Tapanuli Utara sudah lebih siap dari daerah lain dalam penanggulangan Covid-19,” katanya.

Namun kesiapan dan dukungan Bupati Taput kepenanganan Covid-19 berbanding terbalik dengan Kementerian Kesehatan.

“Jika saja Kemenkes memasok Cartridge dan melengkapi stock, kita tidak akan kewalahan bahkan menghentikan Swab Test, dan ini cukup berbahaya melihat RSUD Tarutung sebagai Rumah Sakit rujukan Tapanuli Raya yang berjuang menangani pasien terkonfirmasi ditengah badai pandemi Covid-19 yang belum mereda,” pungkas Janri Nababan. (als)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s